Cara Bilang Aku Mencintaimu Pakai Kata Babi Versi Pursuit of Jade

Ternyata Menyatakan Cinta Bisa Pakai Kata Babi


Kata 𝘣𝘢𝘣𝘪 yang biasanya digunakan untuk menemani kalimat makian, cacian, ejekan, cemoohan dan kawan-kawannya, ternyata juga bisa digunakan untuk menyatakan dedikasi cinta dengan manis. 
Pertiwi Soraya: Cara Bilang Aku Mencintaimu pakai kata babi versi Drama Pursuit of Jade



Wǒ shā zhū, yǎng nǐ 

Sejak pertengahan kuartal 1 tahun 2026, para penggemar drama Cina (dracin) atau kini drama Tiongkok (seharusnya jadi drationg), agaknya tak asing dengan kalimat "Wǒ shā zhū, yǎng nǐ", kalimat dialog yang diucapkan Fan Changyu kepada Yan Zheng/Xie Zheng dalam beberapa adegan drama Pursuit of Jade (Zhu Yu). 

Wǒ shā zhū yǎng nǐ
Aku bunuh/potong babi untuk memeliharamu

Secara literal begitulah terjemahannya. Agak menjijikkan bahkan cenderung seram, ya. Seperti ada unsur psikopatinya. Namun secara kontekstual, para pendengarnya malah merasa si pengucap kata-kata ini benar-benar tulus dan polos, sehingga menjadi sebuah kalimat yang manis. Mari kita lihat konteksnya. 

Fan Changyu, seorang gadis anak dari tukang potong babi, baru saja kehilangan kedua orangtuanya. Mau tak mau, Ia harus menjadi tukang potong babi juga, demi menghidupi dirinya, adik perempuan-usia-lima-tahunnya yang menderita asma (Fan Changning), dan juga seorang lelaki hampir mati yang ia temukan di jalan (Yang Zheng).

Di saat bersamaan, tunangan masa kecilnya tiba-tiba memutuskan pertunangannya, ditambah dengan kerabat yang mengincar warisannya. Belum lagi ada serangkai peristiwa serangan sekelompok pembunuh bayaran ke rumahnya. Singkat cerita cobaan hidupnya datang tak hanya bertubi-tubi, tapi juga dalam paketan. 

Setelah segala pertimbangan, demi melindungi adiknya, Fan Changyu memutuskan untuk mengambil langkah sangat berani, yaitu menikah dengan sistem 𝘻𝘩𝘢𝘰𝘻𝘶𝘪 atau matrilokal.

𝘡𝘩𝘢𝘰𝘻𝘩𝘶𝘪 (招贅) adalah praktik tradisional dalam budaya Tionghoa di mana keluarga kaya yang tidak memiliki ahli waris laki-laki merekrut atau mengadopsi seorang menantu laki-laki untuk tinggal bersama keluarga istri. Dalam sistem ini, menantu tersebut akan melanjutkan garis keturunan keluarga istrinya, bukan keluarga aslinya. Marga si laki-laki juga berubah menjadi marga yang sama dengan si perempuan. Jadi nama anaknya kelak akan ikut marga Ibunya, bukan ayahnya.

Dalam sistem ini yang menjadi kepala keluarga adalah perempuan, dan yang wajib mencari nafkah juga si perempuan. Nah, bedanya, Fan Changyu bukan orang kaya. Melarat malah. 

Jadi pada kalimat dialog:
"Wǒ shā zhū yǎng nǐ"

terjemahan literalnya: 
"Aku bunuh babi untuk memeliharamu"

terjemahan kontekstualnya:
"Ku rela banting tulang sebagai tukang potong babi demi menghidupimu"

Sebuah deklarasi tulus Fan Changyu kepada anggota keluarganya, Yan Zheng. 


Orang Sumut juga pakai kata babi untuk bilang sayang? 


Selain di drama Pursuit of Jade, aku juga beberapa kali dengar kata 𝘣𝘢𝘣𝘪 dipakai untuk ungkapan cintanya si Kyo kepada kucing-kucingnya.

"Anak babiku belum kukasi makan",

"Halo, anak babi-babiku!", katanya. 

Dan aku baru sadar belum pernah tanya, yang dia maksud itu babi (𝘱𝘪𝘨) atau babi (𝘣𝘢𝘣𝘺). 😆

Kalau anak Medan, banyak juga yang kudengar sering pakai kata anjing, monyet, babi, hantu, 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘦, dan kata-kata vulgar lainnya ketika menyapa 𝘣𝘦𝘴𝘵𝘪𝘦-nya sebagai bentuk keakraban dan rasa sayang (katanya). Penasaran, ketika disapa dengan kata-kata itu, apakah menurut yang menyapa yang disapa memiliki karakteristik keimutan seperti kata sapaannya?

Nah, kalau kamu? Pernah pernah dengar kata babi digunakan untuk mengungkapkan cinta juga, 𝘨𝘢𝘬? 

Macam-macam Tipe Orang ketika (Bulan) Puasa

Berikut adalah hasil pengamatanku yang sebagiannya kutemukan semenjak balik ke Aek Loba. 
Aneka jenis orang ketika berpuasa

Macam-macam Tipe Orang ketika (Bulan) Puasa


1. Orang yang di puasa pertama sudah nyicil ngecat rumah.

2. Orang yang teguh gak mau membatalkan puasa walau sedang sakit berat. 

3. Orang yang berusaha tetap nyoba puasa walau gak mampu, sehingga setelah 5 jam puasa harus diinfus hingga hari raya.

4. Orang yang sengaja enggak puasa karena katanya bisa diganti dengan bayar fidiah.

5. Orang yang semangat sekali "safar" di bulan puasa supaya bisa enggak puasa.

6. Orang yang tiap malam sengaja bangun jam 1 pagi hanya untuk masak nasi lalu tidur lagi. 

7. Orang yang bangun jam setengah 3 pagi untuk sahur sambil nonton tivi, lalu kemudian ketiduran ditonton tivi

8. Orang yang bangun sahurnya sengaja setengah jam sebelum imsak supaya gak ketiduran pas nunggu salat subuh.

9. Orang yang gak tidur lagi habis sahur, tapi gak salat subuh karena ada agenda jalan pagi bareng rekan satu geng. 

10. Orang yang sengaja gak salat witir sebelum tidur karena rencananya besok paginya mau disambung tahajud lagi. Ee rupanya pas bangun sahur udah kesiangan.

11. Orang yang mazhabnya itu awal puasa ikut yang paling lama mulainya, tapi awal hari raya ikut yang paling duluan. 

12. Orang yang ketika ceramah-ceramah di tivi sudah bahas-bahas lailatulqadar, dianya sibuk lailatulbakar

13. Orang yang rajin patroli berburu menu bukaan padahal enggak puasa. 

14. Orang yang kalau ditanya, "Kamu kenapa kok puasa? jawabnya, "Kalau gak puasa, gak herayalah aku."

15. Orang yang... 
😁

Bangun Rumah Dengan Budget Terbatas? Rumah Tumbuh Adalah Jawabannya!

Punya rumah sendiri itu impian (hampir) semua orang. Tapi seringnya, bayangan soal biaya bangun rumah bikin kepala langsung cenat-cenut. Harga tanah naik terus, bahan bangunan tak pernah turun, sementara saldo tabungan yang sudah dari dulu dikumpul-kumpul masih juga rasanya pas-pasan (sudah gitu kena inflasi lagi, haee...). Rasanya mustahil, ya? Eh, tapi katanya jangan buru-buru menyerah. Karena ternyata ada lho, konsep yang bisa kita terapkan untuk bangun rumah impian tetap jadi kenyataan meski dompet belum tebal-tebal banget, yaitu dengan rumah tumbuh. Wah, cemana itu? Mari kita cari tahu.
Rumah Tumbuh Adalah


Apa Sih Rumah Tumbuh Itu?


Rumah tumbuh adalah rumah yang dirancang agar bisa dikembangkan di masa depan. Jadi gini, sederhananya rumah tumbuh itu adalah rumah yang dibangun bertahap sesuai dengan anggaran dana yang kita miliki saat itu. Kita tak perlu langsung punya rumah dua lantai megah dari awal. Cukup buat bagian penting dulu atau yang kita prioritaskan lah seperti kamar tidur, dapur sederhana, dan kamar mandi. Nanti kalau ada rezeki lebih, kita bisa tambah ruang tamu, ruang keluarga (ruang nonton TV bahasanya kalau di Aek Loba sini), garasi, gudang, bahkan lantai dua. Terserah mau diperluas ke belakang, ke samping atau ke atas. 

Yang penting, strukturnya sudah dirancang dari awal supaya bisa “menampung” pengembangan di masa depan. Jadi rumahnya tetap kokoh, fungsional, dan yang pasti tak kelihatan tambal sulam. Intinya rumah ini “hidup” dan “bertumbuh” bersama pemiliknya.


Konsep Dasar Rumah Tumbuh


Nah, biar lebih kebayang, ini beberapa hal penting dari konsep rumah tumbuh yang perlu kita tahu:

Direncanakan jangka panjang.

Walau mulainya kecil, pondasi dan rangka utama harus siap kalau mau ditambah lantai. Apalagi kalau lahan yang kita miliki memang terbatas ukurannya. 

Fleksibel.

Ruangan bisa ditambah tanpa bikin rumah yang ada jadi berantakan.

Prioritas dulu. 

Bangun yang penting-penting dulu, sisanya bisa menyusul.

Ada ruang cadangan.

Biasanya memang sengaja disisakan lahan belakang atau samping buat ekspansi nanti ketika tabungan sudah gendut lagi. 

Nah, kalau lihat-lihat konsepnya ini, sepertinya kita butuh konsultasi dengan arsitek ya kan supaya rancangan bangunan rumah impian kita ini efektif sesuai rencana dan harapan kita. 


Kenapa Rumah Tumbuh Menarik?


Alasan banyak orang memilih konsep ini cukup masuk akal, karena:

1. Hemat di awal. Nggak perlu keluar dana jumbo sekaligus.

2. Enggak bikin keuangan megap-megap. Bisa disesuaikan sama kondisi tabungan dan prioritas kebutuhan saat itu. 

3. Rumah ikut tumbuh bersama penghuninya. Keluarga tambah besar? Tinggal kembangkan rumahnya. Bisa tumbuh ke atas, kesamping atau ke belakang. 

4. Lebih efisien. Ruang yang kira-kira saat ini belum terpakai tak usah dibangun dulu, biar tak mubazir. (Misal ruang belajar, kamar tamu, garasi, gudang, dll. Kan belum perlu ya kan untuk keluarga baru anak satu, apalagi pengantin baru). 

5. Tetap cantik. Kalau desainnya sudah dirancang dari awal, hasil akhir rumah tetap estetis.


Kenalan dengan Rona Homes, Rumah Tumbuh dari Summarecon Tangerang


Kalau bicara soal rumah tumbuh, jadi teringat dengan proyek menarik dari Summarecon Tangerang: Rona Homes.
Dengan tagline-nya “Growing House for Growing You”, artinya, rumah ini memang didesain supaya bisa berkembang sesuai kebutuhan pemiliknya. Mulai dengan unit standar, lalu kalau kita butuh ruang tambahan, tinggal dikembangkan saja ke belakang atau ke atas. 

Lokasinya strategis banget, cuma sekitar 200 meter dari akses Tol Bitung KM 26, jadi gampang kalau mau ke Jakarta atau sekitarnya. Kawasannya juga modern, dengan konsep “Six Lakes, One Vibrant City” yang punya danau sebagai pusat township. Keren kan?

Yang buat makin menarik, Rona Homes ini ada di dalam cluster eksklusif dengan fasilitas yang hanya bisa diakses penghuni, bukan umum. Ada clubhouse, swimming pool, sampai children playground buat anak-anak main dengan aman. Selain itu kawasannya berteknologi one gate system, keamanan 24 jam, serta kabel bawah tanah yang tertata rapi. Jadi selain jenis rumahnya berdesain arsitektur modern tropis yang bisa berkembang, lingkungannya juga sangat nyaman untuk ditinggali jangka panjang.

Rona Homes
Sumber: summarecontangerang.com

Intinya, ini adalah paket lengkap buat kita, eh kamu yang cari rumah dengan konsep rumah tumbuh, tapi tetap ingin punya kualitas hidup oke.

Jadi, apakah bangun rumah dengan budget terbatas itu mustahil? Jawabannya sama sekali tidak ya. Konsep rumah tumbuh ini buat impian punya rumah jadi lebih realistis, fleksibel, dan ramah di kantong.

Oiya, kalau mau langsung lihat contoh nyatanya, Rona Homes ini bisa banget jadi pilihan ya. Dengan harga mulai Rp 800 jutaan, plus segala fasilitas Summarecon, kamu nggak cuma dapat rumah, tapi juga dapat kenyamanan hidup jangka panjang.

👉Yuk, coba intip lebih jauh tentang Rona Homes di Summarecon Tangerang. Siapa tahu, ini langkah awal rumah impianmu jadi kenyataan ✨

Menata Mimpi Rumah Masa Depan Bersama properti1.com

Beberapa waktu lalu, aku iseng membuka galeri foto lama. Ternyata ada satu folder berisi sketsa rumah impianku yang kubuat bertahun-tahun lalu. Dinding putih, taman mungil penuh lavender, dan ruang baca dengan jendela besar. Dulu rasanya itu sekadar angan-angan yang kubiarkan mengapung begitu saja. Tapi sekarang, setelah banyak belajar tentang kemandirian dan kehidupan yang lebih teratur, keinginan untuk punya “ruang sendiri” itu kembali muncul.

Ajaibnya, setiap kali kita mulai memikirkan sesuatu dengan serius, semesta seperti ikut bergerak. Alogaritma sosmed udah kayak yang paling memahami kita sedunia. Tiba-tiba aku jadi sering sekali menemukan konten tentang hunian, tips memilih lahan, sampai kisah orang yang baru saja membeli rumah pertamanya. Dan di tengah pencarianku itu, aku menemukan satu hal yang cukup membantu: sebuah platform bernama properti1.com.
Menata Mimpi Rumah Masa Depan Bersama properti1.com


Awalnya aku pikir ini hanya situs listing biasa. Tapi setelah ku jelajahi, ternyata fiturnya cukup rapi, informatif, dan yang paling, dia mudah dipahami orang awam sepertiku. Kalau kamu juga tipe yang suka riset dulu sebelum ambil keputusan besar, kamu pasti paham betapa berharganya platform yang nggak buat n kita pusing tujuh keliling.

Di properti1.com, aku bisa lihat berbagai pilihan rumah, lahan, dan properti komersial tanpa harus loncat dari satu situs ke situs lain. Lebih enak lagi, informasi dasarnya lengkap. Harga, lokasi, luas tanah, dan kondisi bangunan, semuanya jelas. Bahkan ada peta juga. Buatku yang suka membayangkan suasana sekitar, fitur itu sangat penting.

Saat mencari referensi untuk lahan yang dekat pusat kota, aku sempat membuka kategori website properti indonesia. Dari situ, aku sadar bahwa perkembangan properti di Indonesia itu tidak main-main. Banyak kawasan berkembang yang dulunya biasa saja, sekarang berubah jadi area strategis. Jadi kalau kamu sedang mempertimbangkan berinvestasi, platform ini bisa bantu kamu memantau harga pasar dan tren lokasi.

Dan kalau kamu kebetulan tinggal di Jakarta atau punya impian membangun rumah kecil di tengah hiruk-pikuk ibu kota (atau ya yang punya ada rencana pindah ke ibu kota misalnya), ada juga kategori jual tanah jakarta yang informasinya cukup lengkap. Kadang kita berpikir tanah di Jakarta pasti sudah habis, eh rupanya masih ada beberapa titik menarik yang cocok untuk hunian mungil maupun investasi jangka panjang.

Yang paling kusuka dari proses ini adalah bagaimana semuanya membuatku kembali mengingat mimpiku yang dulu. Ternyata, membangun rumah itu bukan hanya soal punya uang, tapi juga soal keberanian untuk memulai riset, membuka kemungkinan, dan mencari jalan pelan-pelan. Nggak harus langsung beli esok hari, tapi tahu arah dan langkah kecil apa yang bisa dimulai dari sekarang.

Seperti saat kita menanam tanaman baru di kebun, kita pilih media tanam yang tepat, atur pencahayaan, dan pelan-pelan memperhatikan pertumbuhannya. Begitu juga dengan urusan properti. Kita butuh tempat yang pas, informasi yang jernih, dan waktu untuk menimbang sebelum memutuskan yang terbaik.

Jadi kalau kamu kini sedang berada di fase “ingin punya rumah tapi bingung mulai dari mana”, mungkin saatnya membuka kembali mimpimu. Lihat sketsamu. Bayangkan jendelanya. Rasakan hangatnya ruang favoritmu. Dan setelah itu, coba sempatkan beberapa menit untuk menjelajah properti yang tersedia. Karena kita enggak pernah tahu langkah kecil mana yang akan membuka pintu yang lebih besar nanti.

Siapa tahu, mimpi rumah impianmu sebenarnya sedang menunggumu di sudut internet yang satu ini—dan mungkin, justru dimulai dari properti1.com.

Evakuasi Sarang Tawon Panggil Damkar Bayar 200ribu?

Sepotong Cerita dari Kanreapia: Ketika Budaya Bertemu Pemuda

Hisss! 

Darah segar langsung terbit menetes. Belum sampai 5 detik pisau cutter itu kupegang, alih-alih jeruk nipis yang ku potong, malah ujung telunjuk kiriku yang tersayat cukup dalam. Entah sugesti, entah memang naas, hampir tiap kali ketika aku menggunakan pisau cutter baru, walau sudah sangat berhati-hati, selalu saja ada tragedi sayatan berdarah yang ku alami. Kalau tak terpaksa kali, tak akan mau aku pakai pisau cutter baru. Dan di rewang kali itu, termasuk kondisi terpaksa, karena aku memang tak bawa pisau dari rumah. Ya tak mungkin kan aku bawa pisau dari rumah untuk rewang lintas kabupaten. Dari Aek Loba ke Batu Bara. 

Tahu rewang, kan? Bagi orang Sumut, rewang adalah salah satu tradisi gotong royong ketika ada hajatan. Ibu-ibu terutama bagian masak-memasak, bapak-bapak bagian peralatan, parut kelapa, mengaduk wajik dan jenang, potong lembu dan sebagainya, anak-anak muda bagian angkat piring, bahan makanan, juga lek-lek-an alias jaga malam. 

Selain rewang, ada juga tradisi gotong royong lain yang dulu sering dilakukan, sekarang sudah jarang kulihat di desaku. Sambatan namanya. Ini jenis gotong-royong ketika kita membangun sesuatu. Biasanya satu atau dua hari selesai. Misalnya bangun rumah (setengah papan), membuat kandang lembu, kandang ayam, membuat cakruk, dan sebagainya. Jadi para tetangga (bapak-bapak biasanya) berdatangan ikut membantu. Si tuan rumah akan menyediakan teh manis dan kudapan. Makan siang umumnya tak disediakan, karena bapak-bapak ini akan pulang ke rumah masing-masing ketika jam makan siang. Lalu sorenya akan lanjut lagi.
 
Nah, satu lagi jenis gotong-royong yang dulunya ada di desa kami adalah gotong royong membersihkan lingkungan. Biasanya diadakan di Minggu pagi. Sehari sebelumnya, Pak Kadus akan berkeliling memberitahu tiap rumah. Dulu, 2 pekan sekali pasti ada gotong royong. Sekarang, setahun sekali pun belum tentu ada. Agaknya makin lama dunia makin sibuk dengan urusan masing-masing ya. Tinggal rewang saja kini yang masih dipraktikkan di desa kami. Apakah di semua desa di Indonesia budaya gotong royong memang makin menipis tergerus masa? 

Ternyata tidak semuanya. Ada satu desa di Indonesia yang karena budaya gotong-royongnya malah membuat desanya jadi dikenal dunia. Desa Kanreapia namanya. Sebuah desa di Sulawesi Selatan. 

Ada apa di Kanreapia? 


Desa Kanreapia terletak di lereng gunung Bawakaraeng, kecamatan Tambolo Pao, di Kabupaten Gowa. Daerah ini dikenal dengan kabut dan suhu dinginnya. Saking dinginnya, desa ini dinamakan Kanreapia yang artinya makan api. Kanre: makan, dan Apia: api. Maksudnya, api dimakan pun masih tetap dingin rasanya. 

Desa ini memiliki tanah yang sangat subur. Sangat cocok untuk bertani. Dulunya masyarakat di sini hanya menanam 3 jenis tanaman pertanian saja yaitu markisa, ubi jalar dan jagung. Namun semenjak adanya Rumah Koran (2014) yang digagas oleh Jamaluddin, seorang pemuda daerah yang memilih pulang kampung setelah tamat S2, perlahan-lahan masyarakat desa mulai teredukasi dalam banyak hal terutama soal pertanian. 

Dari yang dulunya menanam markisa, ubi jalar dan jagung, masyarakat desa ini kini beralih menjadi berbudidaya sayuran. Ada setidaknya 10 komoditas utama sayuran yang dihasilkan desa Kanreapia; buncis, wortel, kol, sawi, labu siam, bunga kol, kentang, tomat, daun bawang, dan seledri. 

Dari yang dulunya bertani dengan menggunakan pupuk kimia, kini penduduk desa berangsur-angsur beralih ke sistem pertanian organik. Selain menghasilkan kualitas sayur yang lebih sehat, desa Kanreapia juga kini mampu menghasilkan sayuran segar dengan jumlah yang melimpah. Sehari panen bisa sampai 20 ton sayuran segar. Saking melimpahnya, di masa pandemi COVID-19, para petani sampai bisa menyedekahkan 50 ton sayur segar ke dapur umum Sat. Brimob Polda Sulsel. 

Aksi ini membuat desa Kanreapia dikenal sebagai Kampung Sayur dan kemudian di 2020 mendapat apresiasi sebagai Kampung Binaan Astra. 
Kampung Sayur


Kegiatan sedekah sayur ini masih terus berjalan hingga kini, menyasar panti asuhan dan pesantren di seluruh penjuru Sulsel. Yang buat aku salut adalah, gerakan yang digagas Jamaluddin melalui Rumah Koran, ternyata dilakukan dengan memanfaatkan sistem gotong royong yang ada di desa Kanreapia ini. Ia menggerakkan masyarakat desa melalui warisan budaya nenek moyang yang bahasa lokalnya di sana dikenal dengan sebutan Akkamissi.

Akkamissi adalah kegiatan gotong-royong masyarakat di Kanreapia yang di lakukan tiap hari Kamis. Jadi setiap Kamis warga punya kebiasaan berkumpul untuk melakukan suatu pekerjaan bersama-sama. Kalau di desaku gotong-royong itu (dulu ya) di hari Minggu, sedangkan di Desa Kanreapia, Kamis adalah hari gotong-royong. Rajin ya, tiap pekan gotong-royong. 

Nah, dengan kebiasaan Akkamissi yang dimiliki desanya, Jamaluddin, penerima SATU Indonesia Award 2017, berhasil menggerakkan warga desanya dalam hal pertanian berbasis ekoliterasi. Seperti dalam pertanian organik, ketika membuat pipanisasi dan sprinkler untuk sistem penyiraman, membuat lahan percontohan, memanen air hujan, membuat kompos, sedekah sayur, dan lain sebagainya, lagi-lagi diterapkan sistem Akkamissi

Begitu juga ketika bersama-sama membangun embung (tempat penampungan air) sampai desa ini punya 100 embung, sehingga Kampung Sayur mampu tetap hijau meski di musim kemarau. Petani di Kanreapia bisa dibilang bisa panen sepanjang musim. Ini semua merupakan hasil dari penerapan edukasi dan gotong-royong, Akkamissi. 
KBA Kanreapia


Dan ternyata efek dari penerapan edukasi dan gotong-royong yang digagas Rumah Koran ini tak hanya sebatas meningkatnya kesejahteraan ekonomi dan tabungan akhirat masyarakat Desa Kanreapia saja. Ada efek pelestarian lingkungan yang signifikan ternyata, sehingga di 2023, Kementerian Lingkungan Hidup pun memberikan penghargaan tertinggi pada desa ini sebagai Kampung Iklim

Tak berhenti sampai situ, keunikan dari sebuah budaya gotong-royong yang diterapkan di desa Kanreapia sehingga bisa menjaga iklim dan lingkungan di desa inilah yang kemudian dilirik oleh dunia internasional pada ajang COP28 di Dubai tahun 2023, sebuah ajang konferensi tahunan tentang perubahan iklim yang digagas oleh PBB. Jamal pun diundang sebagai narasumber pada ajang tersebut sebagai perwakilan Indonesia untuk bercerita tentang Desa Kanreapia, tentang bagaimana pertanian di sana, tentang bagaimana penerapan budaya Akkamissi di Kanreapia sehingga membuat desa itu terjaga iklim dan lingkungannya. 

Cerita tentang budaya gotong royong di Kanreapia ini mau tak mau mengingatkanku pada The Butterfly Effect, efek kepakan sayap kupu-kupu. Sepasang sayap apalah rasanya, namun ketika semua kupu-kupu di sebuah pulau serentak mengepak, tornado yang dihasilkan. 

Kini kita sampai di jaman yang tumbuh kembang generasinya semakin lebih akrab dengan berkompetisi daripada bekerja sama. Memang ada banyak hal yang lebih efektif dan menyenangkan dilakukan sendiri, sedangkan jika dilakukan bersama buat makan hati. Mungkin itu juga yang menyebabkan kita lupa atau pura-pura lupa (sehingga jadi terbiasa lupa) bahwa banyak pula hal yang jauh lebih berfaedah jika dilakukan bersama-sama. Semoga Indonesia yang dulu budaya gotong-royong dikenal sebagai identitas, tidak tinggal sekadar nama ketika bertemu generasi masa depan. 

Tulisan ini didedikasikan untuk memperingati 97 tahun Sumpah Pemuda



Sumber: 

Youtube SATU Indonesia award: Bincang Inspiratif 16th SATU Indonesia Award 2025 Manado

Youtube Rumah Koran: Kanreapia di A_Satu TVRI

Youtube Tv Tani Rumah Koran : KBA Kanreapia di Zona Tani TVRI Sebagai Kampung Sayur

https://rri.co.id/features/390438/kisah-inspiratif-jamaluddin-pencerdas-anak-petani-desa-kanreapia (diakses 20 Oktober 2025) 

rumah-koran.blogspot.com
Instagram @rumah.koran
Instagram @kbakanreapia
Instagram @tvtanirumahkoran
Instagram @kampung.sayur




Kanreapia: Desa Berkabut Yang Menyulap Sayur Jadi Harapan

Pagi itu kabut turun cukup tebal. Dingin mencubit kulit wajah. Tapi aktivitas pagi itu tetap dilakoni penduduk seperti biasa. Satu persatu terlihat mulai turun ke kebun masing-masing. Ada yang mulai memeriksa kondisi dedaunan sawi yang baru kena guyur hujan malam tadi, ada yang mulai mencangkul lahan untuk membuat lokasi pemindahan bibit, ada pula yang sudah sibuk memenuhi bakulnya dengan seledri segar yang baru ia panen. Ah, dingin sudah biasa bersahabat dengan suhu tubuh mereka di sini, Kanreapia.


Berkenalan dengan desa Kanreapia


Kanreapia adalah sebuah desa yang bertanah amat subur di bawah naungan gunung Bawakaraeng. Terletak di hamparan pegunungan dengan ketinggian kuang lebih 2000 m di atas permukaan laut. Ciri khas desa ini adalah dingin, kabut, hujan dan sayuran. Sebagai warga Sumatera Utara, aku langsung terbayang pemandangan Berastagi yang kurasa mirip situasinya alamnya. 

Kanreapia merupakan desa di kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kalau dari ibu kota kabupaten, Sungguminasa, jaraknya sekitar 74 kilometer, atau kira-kira 2 setengah jam perjalanan dari Makassar. 

Pemandangan Desa Kanreapia

Selama ini Kanreapia terkenal sebagai kampung penghasil sayuran segar, karena memang 7 dusun di desa ini fokus menanam sayuran. Setidaknya ada 10 komoditas sayur yang dihasilkan; kol, sawi, tomat, daun bawang, kentang, buncis, wortel, labu siam, kembang kol, dan seledri. Tiap hari desa yang kini juga dikenal dengan sebutan Kampung Sayur ini rata-rata bisa panen lebih dari 20 ton sayur. 

Tapi ternyata dulu masyarakatnya hanya bertani 3 jenis tanaman saja, lho, yaitu markisa, jagung dan ubi jalar. 

Lalu bagaimana ceritanya kini malah sampai jadi pemasok sayuran segar terbesar se-SulSel? 


Sosok Di Balik Kampung Sayur


Transformasi Kanreapia yang sebelumnya hanya menanam 3 jenis komoditas sayuran hingga menjadi pemasok sayur terbesar di Sulawesi Selatan tak lepas dari andil seorang putra daerah bernama Jamaluddin. Setelah menyelesaikan S2-nya, walau sempat menjadi dosen, Jamal memutuskan untuk pulang kampung.

Kalau stay di kampus, banyak profesor, magister dan doktor di sana. Tapi di kampung, saya dibutuhkan kampung saya”. Begitu katanya ketika ditanya kenapa tidak melanjutkan karir di kota. 

Sudah lama Jamal membaca potensi kampung halamannya ini. Lalu ditambah panggilan hatinya untuk mengabdi karena prihatin dengan tingkat pendidikan dan literasi di desanya, Jamal dan rekan-rekannya akhirnya di 2014 membuat sebuah rumah baca bernama Rumah Koran. 

Rumah koran

Di rumah koran ini, yang awalnya bekas kandang bebek lalu dindingnya ditempeli koran, sering jadi tempat berkumpul anak-anak petani, masyarakat, petani muda dan petani tua. Dari yang awalnya hanya wadah baca tulis, berkembang dan meluas menjadi wadah edukasi masyarakat, forum diskusi pertanian, hingga ekoliterasi. Hingga pada 2017, dedikasi Jamal mendapatkan SATU Indonesia Award. 


Lewat Rumah Koran Petani Biasa Menjadi Petani Berliterasi : Sejahtera di Dunia, Sejahtera di Akhirat. 


“Rumah Koran selalu berupaya untuk mengedukasi masyarakat supaya desa ini mampu menghasilkan sayur dengan kuantitas dan kualitas yang bagus”, ujar Jamal. 

Lewat lahan contoh, kami juga memperlihatkan bagaimana supaya sebagai petani kita betul-betul menjaga mata air, bagaimana membuat pipanisasi, membuat penghijauan, hingga menerapkan pertanian organik. Tujuannya agar pertanian bisa berkelanjutan.” Sambungnya. 

Hasilnya, kini petani di Kanreapia bisa bercocok tanam dan panen di segala musim, baik di musim hujan maupun kemarau, tanpa perlu khawatir dengan sumber air. Karena ada air melimpah di 100 embung (tempat penampungan air). 

Saking melimpahnya hasil tani di Kanreapia, di era Covid-19 bahkan desa ini mampu menyedekahkan 50 ton sayur segar ke dapur umum Sat. Brimob POLDA SulSel. Aksi ini kemudian mengantarkan Kanreapia menjadi salah satu desa binaan dalam program Kampung Berseri Astra (KBA) sejak 2021.

Uniknya, sedekah sayur ini pun masih terus dijalankan hingga kini. Menyasar lebih dari 100 panti asuhan yang ada di SulSel, jumlah sedekah sayur kini telah tembus 100 ton. 

Dari petani biasa menjadi petani literasi, petani dermawan. Jadi, sejahtera di dunianya dapat, tabungan akhirat nya juga dapat.” Tukas Jamal mantap. 


Melirik Seledri Karena Literasi


Akhir-akhir ini banyak petani di Kanreapia beralih fokus ke seledri. Pasalnya dari Rumah Koran mereka belakangan jadi tahu kalau tanaman yang tumbuh subur di ketinggian 900 m dari permukan laut ini punya banyak keunggulan dibanding tanaman sayur lainnya. Seperti bisa dipanen (kembali) dalam jangka waktu singkat, mudah dan murah perawatannya, harga jual relatif tinggi, sehingga dianggap lebih efisien. 

Pembibitan 1 bulan, lalu pindah bedeng tanam. 2 bulan setelah masa tanam baru bisa dipanen. Perawatannya pupuk, jaga dari hama, lalu pakai bahan kimia sedikit supaya tidak cacat.” Ujar Hasrullah, salah satu petani seledri di Kanreapia. 

Yang pernah menanam seledri pasti paham. Beberapa tahun lalu aku juga sempat punya 30an pot seledri di rumah. Kalau untuk pemakaian sehari-hari tentunya sampai luber ya, jadi sampai bisa dijual hasil panennya. Dan dalam jangka waktu sepekan setelah dipanen, aku sudah bisa panen lagi. 

Jadi kalau petani di Kanreapia punya lahan luas yang isinya seledri semua, mereka jadi serasa bisa panen seledri tiap hari, dari lahan yang berbeda. Jadi mereka bisa mendapatkan pendapatan harian dari panen seledri. 


Kolaborasi Selalu Jadi Kunci Keberlangsungan Berdaya

Desa Kanreapia

11 tahun Rumah Koran berdiri, Jamal mengakui bahwa kebanyakan aksi yang digagas oleh Rumah Koran tak lepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak. Baik masyarakat setempat, sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan, Kementerian Lingkungan Hidup, aparat pemerintah, mahasiswa, komunitas-komunitas terkait, panti asuhan, dan lainnya. 

Jadi kita tidak bergerak sendiri”. Tuturnya. 

Seperti dalam hal pemasaran hasil tani, Komunitas Rumah Koran mewadahi pemasaran dalam bentuk macam-macam. Diantaranya melalui program Pasar Tani yang bekerja sama dengan para pengepul sayur. 

Sayur-sayur saya kumpul dari petani, lalu dibawa ke gudang. Setelah itu disortir, baru dijual lagi. Pasar penjualan saya macam-macam, ke Enrekan, Batulincin, Samarinda, bahkan Makassar." Ujar Hamzah salah satu langganan pengepul sayur. 

Kini hasil panen Kampung Sayur sudah memasok ke 18 kecamatan di Kabupaten Goa, sampai ke ibu kota provinsi, bahkan keluar pulau Sulawesi, menembus pasar pulau Kalimantan dan Papua. Jamal berharap ke depannya sayur-sayur Kanreapia bisa go Internasional, diekspor secara global. 


Akkammisi: Kebiasaan Nenek Moyang Menjadi Kunci Menjaga Iklim dan Melestarikan Lingkungan sampai menginspirasi dunia Internasional


Penduduk Kanreapia punya tradisi nenek moyang yang hingga kini masih sering dilakukan, Akkammisi namanya. Sebuah tradisi gotong royong yang dilakukan masyarakat tiap hari Kamis. Jadi setiap Kamis, penduduk akan kumpul bersama untuk melakukan suatu aktivitas gotong royong. 

Tradisi ini kemudian diaplikasikan Rumah Koran dalam memberdayakan masyarakat menjalankan visi misi dan pilar-pilar Rumah Koran dan KBA Kanreapia; pendidikan, lingkungan, kesehatan dan kewirausahaan. Seperti ketika membangun embung pertanian, memanen air hujan, membangun pipanisasi dan sprinkler untuk sistem penyiraman, membuat lahan percontohan, menjalankan sedekah sayur, dan kegiatan lainnya. 

Tak disangka pada 2023, 2 tahun setelah dibina Astra, praktik gotong royong ini malah mengantarkan KBA Kanreapia mendapatkan predikat Kampung Iklim Berseri, sebuah penghargaan tertinggi dari Kementrian Lingkungan Hidup RI. 

Tak tanggung-tanggung, setelah itu Kanreapia juga dilirik ajang internasional pada COP28 (Conference of the Parties of the UNFCCC), pertemuan tahunan yang ke-28 Konferensi Perubahan Iklim PBB, di Dubai. Karena dianggap budaya dari Akkammisi yang diterapkan di Kanreapia ini mampu mempertahankan iklim dan lingkungan di desa itu. 

Wah, seberdampak itu ya. Dari hal yang tampaknya sepele, jadi inspirasi dunia. 

Maka kini Desa Kanreapia punya 3 identitas, yaitu KBA, Kampung Iklim, dan Kampung Sayur

Ensia award

Terakhir di tahun 2025 ini, Jamaluddin sebagai local hero inspiratif meraih penghargaan Environmental Sustainability Innovation Award (ENSIA). Ini karena inovasinya dalam menjaga lingkungan melalui gerakan literasi hijaunya yang mampu menggerakkan partisipasi masyarakat Desa Kanreapia. 


Dari Kampung Sayur Merambah ke Ekowisata, Kapan Waktu Terbaik Berkunjung ke Kanreapia? 


Inspirasi dari Kampung Sayur tentunya mengundang kekaguman dan rasa ingin tahu bagi siapa saja yang mendengar. Berbagai studi banding dari luar daerah, provinsi, dan dari luar pulau se-Indonesia pun banyak berdatangan. Membuka peluang potensi baru bagi Kanreapia sebagai destinasi ekowisata bertema wisata edukasi. 

Pengunjung melihat langsung proses pertanian yang dilakukan di Kampung Sayur ini. Mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan. Kita bisa berdiskusi sepuasnya dengan para petani di lapangan.

Bayangkan, berkemah di antara kebun-kebun sayur. Bangun pagi keluar tenda disambut dengan udara dingin dan hamparan hijau sayuran seluas mata memandang yang berselimut kabut. Kita bisa petik sendiri sayuran organik sepuasnya, kemudian langsung kita masak untuk sarapan pagi itu. Wah, bagiku itu sungguh pengalaman yang tak terlupakan dan pasti bakal dirindukan. 

Bulan Maret sampai sebelum musim penghujan.”

Jawab Jamal ketika ditanya kapan waktu terbaik berkunjung ke Kanreapia.

Suhu normal di Kanreapia di bawah 16 derajat Celcius.

Ciri khasnya Kanreapia itu dingin, kabut, hujan dan sayuran. Jadi kalau ke sana wajib bawa jaket”. Ungkapnya sambil tersenyum.


Tantangan dan Tekad


Selama 11 tahun bersama Rumah Koran, dan 4 tahun menjadi desa binaan Astra, meski telah banyak perubahan, inovasi dan inspirasi yang dilahirkan di Kanreapia, desa ini merasa masih tetap perlu terus berbenah, terutama dalam hal melengkapi fasilitas-fasilitas pendukung untuk menciptakan desa Kanreapia yang berdaya dan berdaya saing. Terutama dalam hal wisata edukasi, seperti infrastruktur dan penunjang lainnya. 

Dalam hal pemasaran hasil panen, harapan kedepannya Desa Kanreapia bisa memaksimalkan pemasaran secara online supaya bisa menjangkau pasar lebih luas lagi hingga dikenal secara global. 

Kanreapia bertekad menjadi sentra penghasil sayuran untuk mencukupi kehidupan pangan, meningkatkan taraf hidup, dan menunjang roda ekonomi masyarakat Desa Kanreapia.” Ujar Jamal mantap. 


Harapan yang Tumbuh Dari Balik Kabut


Menjelang senja, perlahan kabut kembali turun, menyelimuti ladang-ladang hijau di lereng gunung. Para petani berjalan pulang sambil membawa keranjang penuh hasil panen. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan kisah luar biasa tentang perubahan yang tumbuh dari koran-koran yang ditempel di dinding bekas kandang bebek, dari literasi di tanah yang subur, dari niat melestarikan budaya nenek moyang, juga dari semangat kolaborasi berkesinambungan. 

Kanreapia kini bukan sekadar kampung penghasil sayur. Ia adalah simbol inspirasi dan harapan; bahwa ketika masyarakat, swasta, dan pemerintah bersama menyatukan gerak, bahkan kampung dari balik kabut pun bisa menyulap sayur menjadi masa depan yang cerah. 



Sumber: 

Youtube SATU Indonesia award: Bincang Inspiratif 16th SATU Indonesia Award 2025 Manado

Youtube Rumah Koran: Kanreapia di A_Satu TVRI

Youtube Tv Tani Rumah Koran : KBA Kanreapia di Zona Tani TVRI Sebagai Kampung Sayur

https://sulsel.idntimes.com/news/sulawesi-selatan/kampung-sayur-kanreapia-semakin-berdaya-berkat-pasar-tani-00-5qckx-bnw29b (diakses 19 Oktober 2025)
 
rumah-koran.blogspot.com
Instagram @rumah.koran
Instagram @kbakanreapia
Instagram @tvtanirumahkoran
Instagram @kampung.sayur