Seharian Desain Canva lewat HP? Gejala Mata Kering Jangan Disepelein

Kalau ada yang bilang mendesain itu menyenangkan, kreatif, dan bikin lupa waktu, maka sesungguhnya aku tidak termasuk golongan itu. Karena aku cuma ada di golongan makan waktunya saja. Makan waktu ya, bukan lupa waktu.

Sejak dulu, mendesain justru sering mendatangkan stres buatku. Sekarang pun masih begitu.

Memang, sejak ada Canva, urusan dunia perdesainan terasa jauh lebih mudah. Kalau kata sejuta umat, Canva itu gampang, cepat, dan praktis. Untuk bagian gampang dan mudah, aku setuju. Tapi kalau dibilang cepat? Bagiku belum tentu. 🤭

Masalahnya memang bukan di Canvanya Tapi ya di akunya yang dari sononya memang tidak suka mendesain. Tapi ya mau bagaimana lagi? Ada tuntutan pekerjaan dan kegiatan yang membuatku mau tidak mau harus berhadapan dengan desain. Salah satunya ketika harus membuat desain konten Instagram untuk FLP Sumut. Jadi meskipun tidak suka, ya tetap digeluti juga.

Yang Cepat Itu Kalau Templatnya Sudah Jadi


Kalau desainnya sudah punya templat tetap, nah, itu baru aku bisa bilang Canva benar-benar terasa cepat dan praktis. Tinggal mengganti nama, dan foto, sunting sedikit informasi, rapikan seperlunya. Sudah. Beres.

Tapi coba kalau harus mendesain dari nol? Dah lah. Bisa seharian😭. Perjuangannya bahkan dimulai sebelum Canva dibuka.

Aku harus mencari inspirasi dulu. Lihat desain orang. Cari referensi. Simpan beberapa contoh. Lihat lagi. Cari yang lain. Simpan lagi. Dan tiba-tiba referensinya sudah menggunung saja. 

Bukannya semakin mudah menentukan pilihan, aku malah semakin bingung. Yang ini bagus. Yang itu juga bagus. Kalau pakai konsep ini bagaimana? Eh, tadi ada yang lebih cocok. Akhirnya bukannya desain yang jadi, malah kepala yang penuh.

Setelah itu baru masuk ke urusan printilan. Font-nya apa? Pasangannya yang mana? Warnanya apa saja? Ukuran judulnya? Fotonya diletakkan di mana? Jarak antar-elemen bagaimana? Pakai ornamen apa tidak? Dan kawan-kawannya.

Hal-hal kecil seperti itu kalau dikumpulkan ternyata bisa menghabiskan waktu dan energi yang lumayan besar.

Jadi kalau kemudian aku bilang bisa seharian menatap HP karena desain Canva, jangan bayangkan aku sedang menikmati kegiatan kreatif yang menyenangkan. Justru aku sedang berjuang menyelesaikan sesuatu yang memang harus selesai. 😂
Seharian Desain Canva lewat HP? Gejala Mata Kering Jangan Disepelein


Mata Ikut Jadi Korban


Nah, di sinilah hubungannya dengan mata.
Proses desain seperti itu membuatku bisa berkali-kali melihat layar dalam waktu lama.

Mencari inspirasi. Membuka Canva. Memperbesar desain. Memperkecil. Membandingkan warna. Membaca teks. Mengatur posisi. Mengecek ulang. Terutama EYD-nya. 

Bisa juga nanti jadi kembali mencari referensi karena tiba-tiba merasa desainnya kurang bagus. Gawat kali aku kan. 😌

Kalau sedang benar-benar mengejar pekerjaan, aktivitas seperti ini bisa berlangsung dari pagi sampai malam.
Dan ketika mata mulai terasa sepet, lelah, berair, atau area sekitar alis mulai terasa berat, biasanya aku langsung sadar: "Kayaknya mataku sudah cukup kerja keras hari ini."

Masalahnya, kesadaran itu kadang datang ketika desainnya belum selesai. Jadilah dilema lagi. Mau berhenti, tanggung. Mau lanjut, mata sudah protes. Dan di situlah kemudian muncul rasa khawatir.

Aku mulai merasa mungkin mata sudah terlalu lama dipaksa bekerja. Kadang rasa lelah itu juga membuat mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada satu titik.

Akhirnya pekerjaan desain yang seharusnya tinggal sedikit malah terasa semakin melelahkan.

Jadi, walaupun gejalanya terasa sepele, ternyata pengaruhnya terhadap aktivitas cukup nyata. Yang tadinya fokus memikirkan desain, akhirnya sebagian perhatian justru pindah ke mata. Kok mulai sepet, ya? Kok berair? Apa aku sudah terlalu lama lihat layar? 

Dan bukannya pekerjaan cepat selesai, aku malah jadi harus mengambil jeda. SePeLe, tetapi bikin kerjaan ikut tersendat.

Ternyata Mata Kering Bisa Terasa Seperti Ini


Sebelumnya aku juga sempat berpikir bahwa mata kering itu ya mata yang benar-benar tidak berair. Ternyata tidak sesederhana itu.

National Eye Institute menjelaskan bahwa dry eye atau mata kering dapat terjadi ketika mata tidak menghasilkan air mata yang cukup atau air mata tidak bekerja dengan baik untuk menjaga permukaan mata tetap nyaman. Keluhannya bisa berupa rasa kering atau seperti ada benda asing, sensasi terbakar atau perih, mata merah, sensitif terhadap cahaya, hingga penglihatan yang terasa kabur.

Menariknya, mata kering juga dapat disertai mata berair. Halodoc juga menjelaskan bahwa mata berair dapat menjadi salah satu gejala yang muncul pada kondisi mata kering. Jadi, mata yang tiba-tiba berair tidak otomatis berarti permukaan mata sedang baik-baik saja. Ini yang sekarang membuatku lebih memperhatikan kondisi mata.

Kalau sedang melihat layar lalu tiba-tiba keluar air mata, kini aku tidak langsung berpikir, "Oh, berarti mataku aman karena masih bisa berair mata". Aku malah was-was.

Aku justru melihat apakah ada gejala lain yang menyertai, seperti sepet, perih, lelah, atau sulit fokus.

Kenapa Menatap Layar Lama Bisa Membuat Mata Tidak Nyaman?


Salah satu masalahnya adalah ketika kita terlalu fokus pada suatu aktivitas, frekuensi berkedip bisa berkurang.
Dan aku merasa ini sangat relevan dengan aktivitas desain.

Bayangkan ketika sedang memperhatikan apakah tulisan sudah sejajar. Kita fokus. Apakah warna ini cocok? Fokus lagi. Foto ini terlalu besar atau tidak? Zoom. Font-nya kurang pas? Ganti. Posisinya agak miring? Geser.

Belum lagi kalau sedang membandingkan beberapa referensi desain. Dalam kondisi seperti itu, rasanya mata memang jarang diajak santai ya.

Situs resmi Insto juga menyebut aktivitas yang membuat seseorang jarang berkedip karena terlalu fokus, termasuk membaca dan menggunakan layar, dapat memicu gejala mata kering.

Karena itu, salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memberikan jeda secara berkala dan mengingatkan diri untuk berkedip.

Aku sendiri juga mencoba menerapkan aturan 20-20-20. Maksudnya setelah sekitar 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau kurang lebih 6 meter.

Masalahnya, baru ingatnya itu sering setelah mata sudah protes duluan. Wkwkwk.

Berapa Lama Screen Time yang Aman?


Sebagai orang dewasa, aku sempat penasaran, sebenarnya berapa lama sih batas aman menatap layar?

Ternyata tidak ada satu angka universal yang bisa diberlakukan untuk semua orang dewasa. Apalagi kalau layar memang menjadi bagian dari pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.

Yang lebih penting adalah bagaimana penggunaan layar dikelola: memberikan jeda, tetap aktif bergerak, menjaga tidur, memperhatikan pencahayaan dan posisi, serta tidak mengabaikan keluhan ketika mata mulai terasa tidak nyaman.

National Eye Institute juga menyarankan membatasi waktu menatap layar dan mengambil jeda dari layar sebagai salah satu langkah yang dapat membantu ketika mengalami mata kering.

Untuk anak-anak, pendekatannya berbeda.
American Academy of Pediatrics menganjurkan keluarga membuat Family Media Plan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Penggunaan layar sebaiknya tidak sampai mengambil alih waktu tidur, belajar, aktivitas fisik, bermain, hobi, maupun interaksi keluarga.
Jadi, untuk anak-anak pun pertanyaannya bukan sekadar,

"Sudah berapa jam main HP?"

tapi juga,

"Apa yang sudah tergantikan karena terlalu lama menggunakan layar?"

Menurutku ini jauh lebih masuk akal daripada sekadar mengejar satu angka tertentu.

Kalau Mata Mulai Lelah, Aku Biasanya Ngapain?


Kalau mata sudah mulai terasa berat, biasanya aku mencoba berhenti sejenak. Ponsel diistirahatkan,
Canva ditutup, pandangan dialihkan. Tak jarang akhirnya desainnya juga ku tinggal dulu jadinya. Karena tidak semua desain harus selesai dalam sekali duduk. Dan kayaknya tak pernah juga sih.

Kadang mata ku pejamkan sebentar. Kadang juga bisa ketiduran kalau kelamaan🤭. 

Aku juga cukup sering melakukan pijat mata dan senam mata yang sebelumnya pernah ku tulis di blog. Buatku pribadi, ini cukup membantu. Area sekitar mata terasa lebih rileks. Rasa berat di sekitar alis dan rasa agak pening juga biasanya berkurang.

Tentu saja ini bukan klaim kalau pijat atau senam mata bisa jadi obat untuk mata kering atau cara memperbaiki ukuran silinder ya.  Ini lebih kepada kebiasaan pribadiku sih. Karena kegiatan ini membuat mataku terasa lebih rileks setelah terlalu lama berkonsentrasi pada layar.


Ternyata Insto Dry Eyes Sudah Lama Ada di Rumah

Insto Dry eyes kemasan baru yang difoto secara estetik
Hasil bongkar-bongkar laci dan menemukanmu🤭


Perjalananku sampai akhirnya mencoba Insto Dry Eyes ternyata tidak dimulai dari beberapa waktu lalu.

Aku sebenarnya sudah punya produk ini sejak 2025. Waktu itu aku membelinya di Indomaret Aek Loba karena ada kebutuhan untuk sebuah proyek pekerjaan. Harganya ku ingat 16 ribu karena lagi ada promo waktu itu. Kalau sekarang dicek lagi harganya sekitar 17.900 sih di sini. 

Nah, saat itu kondisinya lain memang. Waktu itu aku belum merasa mengalami gejala mata kering seperti yang mulai sering kurasakan akhir-akhir ini. Paling hanya mata lelah setelah beraktivitas. Jadi, setelah dibeli, Insto Dry Eyes itu cuma aku anggurin begitu saja. Tak pernah ku uji coba. Segelnya pun belum dibuka. 

Sampai beberapa bulan belakangan ini aku mulai merasa kondisi mataku agak berbeda. Kadang sepet, sering berair, dan cepat lelah. Area sekitar alis juga bisa terasa berat, terutama setelah terlalu lama menatap layar. Tak jarang pun rasanya mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada satu titik.

Nah, dari sinilah aku akhirnya teringat pada botol Insto Dry Eyes yang selama ini tersimpan di rumah.

"Eh, aku kan punya stok Insto Dry Eyes"

Tapi ya tentu saja tak langsung ku pakai. Namanya juga belinya tahun lalu. Jadi aku cek dulu dulu tanggal kedaluwarsanya. Eh, ternyata 2028. Dan selama ini menyimpannya juga di tempat yang relatif sejuk dan tidak terkena panas atau cahaya matahari langsung. Aman la ya kan. 
Insto dry eyes untuk mata kering kedaluwarsanya 2028
Alhamdulillah, masih aman hingga 2028😁

Barulah akhirnya aku resmi mencoba produk yang sebenarnya sudah lama menjadi penghuni laci mejaku itu.


Pengalaman Pertama Menggunakan Insto Dry Eyes


Pengalaman pertamaku menggunakan Insto Dry Eyes terjadi ketika mataku sedang terasa kurang nyaman setelah cukup lama menatap layar. Waktu itu hari hari kedua stelah seharian berkutat dengan desain caraousel untuk Instagram FLP Sumut yang belum siap-siap juga🥲. 


Aku pakai 2 tetes di masing-masing mata. Sensasi pertama yang paling terasa adalah rasa adem di mata. Bukan dingin seperti mentol yang menusuk. Lebih seperti rasa sejuk yang membuat mata terasa nyaman. Setelah digunakan, mataku terasa lebih enak dan segar.


Aku cukup suka dengan sensasi tersebut karena rasanya tidak berlebihan. Dan mungkin karena sebelumnya produk ini cuma tersimpan di rumah tanpa pernah ku pakai, pengalaman pertama itu jadi bertambah terasa seperti:
"Oh, ternyata ini rasanya memanfaatkan barang yang selama ini cuma nongkrong di laci ya." 😂


#InstoDryEyes digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata dan membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg dan Benzalkonium Chloride 0,1 mg.


Tentu saja, pengalaman menggunakan produk merupakan pengalaman pribadi dan respons setiap orang sangat bisa jadi berbeda.


Kalau keluhan mata terus terjadi, semakin berat, atau disertai gangguan penglihatan, sebaiknya ya tetap berkonsultasi dengan dokter mata, sih. 


Sekarang Aku Tetap Mendesain, tapi Lebih Sadar Diri


Apakah setelah mengenal Canva aku jadi suka mendesain? Tidak juga. Wkwkwk. Canva memang membuat pekerjaan desain jauh lebih mudah. Tetapi mudah bukan berarti aku otomatis berubah menjadi orang yang senang mendesain.

Mendesain konten Instagram menggunakan Canva lewat HP dalam waktu lama dapat membuat mata terasa lelah dan sepet
Foto ini dimodifikasi pakai Chat GPT ya🙏

Kalau sudah ada template yang tinggal diedit, aku bisa bilang:
"Nah, ini baru mendesain yang kusukai." 😂


Tapi kalau harus mulai dari halaman kosong? Aku masih seperti biasa, pusing duluan hanya karena terlalu banyak pilihan.

Namun setidaknya sekarang aku lebih sadar bahwa bukan cuma desain yang butuh perhatian, mata juga. Karena ketika tuntutan membuat kita harus menatap layar berjam-jam, jangan sampai kita baru peduli pada mata setelah benar-benar terasa tidak nyaman.

Walaupun aku belum bisa mencintai proses desain, tetapi setidaknya aku bisa mulai belajar mencintai mataku yang setiap hari dipaksa menemani proses tersebut. Karena semakin ke sini aku semakin menyadari bahwa,


Hanya karena kita memaksa diri menjadi pemburu deadline, mata sendiri tidak boleh ikut menjadi korbannya.”

Jadi, kalau hari ini kamu juga sedang sibuk menatap layar, entah untuk bekerja, belajar, membaca, menonton, atau mendesain seperti aku, jangan tunggu mata benar-benar menyerah baru beristirahat.


#MataSePeLeJanganSepelein, karena gejala mata yang terasa SePeLe tetap merupakan sinyal yang layak diperhatikan. Semoga kita #BebasMataKering ya.




Referensi
1. National Eye Institute: Informasi mengenai Dry Eye dan gejalanya.
2. Halodoc: Informasi mengenai mata kering dan gejala yang menyertainya.
3. HealthyChildren.org: Family Media Plan dan kebiasaan penggunaan media yang sehat pada anak.
4. Insto: Informasi resmi mengenai Insto Dry Eyes kandungan, fungsi, dan aturan penggunaannya.



Cara Bilang Aku Mencintaimu Pakai Kata Babi Versi Pursuit of Jade

Ternyata Menyatakan Cinta Bisa Pakai Kata Babi


Kata 𝘣𝘢𝘣𝘪 yang biasanya digunakan untuk menemani kalimat makian, cacian, ejekan, cemoohan dan kawan-kawannya, ternyata juga bisa digunakan untuk menyatakan dedikasi cinta dengan manis. 
Pertiwi Soraya: Cara Bilang Aku Mencintaimu pakai kata babi versi Drama Pursuit of Jade



Wǒ shā zhū, yǎng nǐ 

Sejak pertengahan kuartal 1 tahun 2026, para penggemar drama Cina (dracin) atau kini drama Tiongkok (seharusnya jadi drationg), agaknya tak asing dengan kalimat "Wǒ shā zhū, yǎng nǐ", kalimat dialog yang diucapkan Fan Changyu kepada Yan Zheng/Xie Zheng dalam beberapa adegan drama Pursuit of Jade (Zhu Yu). 

Wǒ shā zhū yǎng nǐ
Aku bunuh/potong babi untuk memeliharamu

Secara literal begitulah terjemahannya. Agak menjijikkan bahkan cenderung seram, ya. Seperti ada unsur psikopatinya. Namun secara kontekstual, para pendengarnya malah merasa si pengucap kata-kata ini benar-benar tulus dan polos, sehingga menjadi sebuah kalimat yang manis. Mari kita lihat konteksnya. 

Fan Changyu, seorang gadis anak dari tukang potong babi, baru saja kehilangan kedua orangtuanya. Mau tak mau, Ia harus menjadi tukang potong babi juga, demi menghidupi dirinya, adik perempuan-usia-lima-tahunnya yang menderita asma (Fan Changning), dan juga seorang lelaki hampir mati yang ia temukan di jalan (Yang Zheng).

Di saat bersamaan, tunangan masa kecilnya tiba-tiba memutuskan pertunangannya, ditambah dengan kerabat yang mengincar warisannya. Belum lagi ada serangkai peristiwa serangan sekelompok pembunuh bayaran ke rumahnya. Singkat cerita cobaan hidupnya datang tak hanya bertubi-tubi, tapi juga dalam paketan. 

Setelah segala pertimbangan, demi melindungi adiknya, Fan Changyu memutuskan untuk mengambil langkah sangat berani, yaitu menikah dengan sistem 𝘻𝘩𝘢𝘰𝘻𝘶𝘪 atau matrilokal.

𝘡𝘩𝘢𝘰𝘻𝘩𝘶𝘪 (招贅) adalah praktik tradisional dalam budaya Tionghoa di mana keluarga kaya yang tidak memiliki ahli waris laki-laki merekrut atau mengadopsi seorang menantu laki-laki untuk tinggal bersama keluarga istri. Dalam sistem ini, menantu tersebut akan melanjutkan garis keturunan keluarga istrinya, bukan keluarga aslinya. Marga si laki-laki juga berubah menjadi marga yang sama dengan si perempuan. Jadi nama anaknya kelak akan ikut marga Ibunya, bukan ayahnya.

Dalam sistem ini yang menjadi kepala keluarga adalah perempuan, dan yang wajib mencari nafkah juga si perempuan. Nah, bedanya, Fan Changyu bukan orang kaya. Melarat malah. 

Jadi pada kalimat dialog:
"Wǒ shā zhū yǎng nǐ"

terjemahan literalnya: 
"Aku bunuh babi untuk memeliharamu"

terjemahan kontekstualnya:
"Ku rela banting tulang sebagai tukang potong babi demi menghidupimu"

Sebuah deklarasi tulus Fan Changyu kepada anggota keluarganya, Yan Zheng. 


Orang Sumut juga pakai kata babi untuk bilang sayang? 


Selain di drama Pursuit of Jade, aku juga beberapa kali dengar kata 𝘣𝘢𝘣𝘪 dipakai untuk ungkapan cintanya si Kyo kepada kucing-kucingnya.

"Anak babiku belum kukasi makan",

"Halo, anak babi-babiku!", katanya. 

Dan aku baru sadar belum pernah tanya, yang dia maksud itu babi (𝘱𝘪𝘨) atau babi (𝘣𝘢𝘣𝘺). 😆

Kalau anak Medan, banyak juga yang kudengar sering pakai kata anjing, monyet, babi, hantu, 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘦, dan kata-kata vulgar lainnya ketika menyapa 𝘣𝘦𝘴𝘵𝘪𝘦-nya sebagai bentuk keakraban dan rasa sayang (katanya). Penasaran, ketika disapa dengan kata-kata itu, apakah menurut yang menyapa yang disapa memiliki karakteristik keimutan seperti kata sapaannya?

Nah, kalau kamu? Pernah pernah dengar kata babi digunakan untuk mengungkapkan cinta juga, 𝘨𝘢𝘬? 

Macam-macam Tipe Orang ketika (Bulan) Puasa

Berikut adalah hasil pengamatanku yang sebagiannya kutemukan semenjak balik ke Aek Loba. 
Aneka jenis orang ketika berpuasa

Macam-macam Tipe Orang ketika (Bulan) Puasa


1. Orang yang di puasa pertama sudah nyicil ngecat rumah.

2. Orang yang teguh gak mau membatalkan puasa walau sedang sakit berat. 

3. Orang yang berusaha tetap nyoba puasa walau gak mampu, sehingga setelah 5 jam puasa harus diinfus hingga hari raya.

4. Orang yang sengaja enggak puasa karena katanya bisa diganti dengan bayar fidiah.

5. Orang yang semangat sekali "safar" di bulan puasa supaya bisa enggak puasa.

6. Orang yang tiap malam sengaja bangun jam 1 pagi hanya untuk masak nasi lalu tidur lagi. 

7. Orang yang bangun jam setengah 3 pagi untuk sahur sambil nonton tivi, lalu kemudian ketiduran ditonton tivi

8. Orang yang bangun sahurnya sengaja setengah jam sebelum imsak supaya gak ketiduran pas nunggu salat subuh.

9. Orang yang gak tidur lagi habis sahur, tapi gak salat subuh karena ada agenda jalan pagi bareng rekan satu geng. 

10. Orang yang sengaja gak salat witir sebelum tidur karena rencananya besok paginya mau disambung tahajud lagi. Ee rupanya pas bangun sahur udah kesiangan.

11. Orang yang mazhabnya itu awal puasa ikut yang paling lama mulainya, tapi awal hari raya ikut yang paling duluan. 

12. Orang yang ketika ceramah-ceramah di tivi sudah bahas-bahas lailatulqadar, dianya sibuk lailatulbakar

13. Orang yang rajin patroli berburu menu bukaan padahal enggak puasa. 

14. Orang yang kalau ditanya, "Kamu kenapa kok puasa? jawabnya, "Kalau gak puasa, gak herayalah aku."

15. Orang yang... 
😁

Bangun Rumah Dengan Budget Terbatas? Rumah Tumbuh Adalah Jawabannya!

Punya rumah sendiri itu impian (hampir) semua orang. Tapi seringnya, bayangan soal biaya bangun rumah bikin kepala langsung cenat-cenut. Harga tanah naik terus, bahan bangunan tak pernah turun, sementara saldo tabungan yang sudah dari dulu dikumpul-kumpul masih juga rasanya pas-pasan (sudah gitu kena inflasi lagi, haee...). Rasanya mustahil, ya? Eh, tapi katanya jangan buru-buru menyerah. Karena ternyata ada lho, konsep yang bisa kita terapkan untuk bangun rumah impian tetap jadi kenyataan meski dompet belum tebal-tebal banget, yaitu dengan rumah tumbuh. Wah, cemana itu? Mari kita cari tahu.
Rumah Tumbuh Adalah


Apa Sih Rumah Tumbuh Itu?


Rumah tumbuh adalah rumah yang dirancang agar bisa dikembangkan di masa depan. Jadi gini, sederhananya rumah tumbuh itu adalah rumah yang dibangun bertahap sesuai dengan anggaran dana yang kita miliki saat itu. Kita tak perlu langsung punya rumah dua lantai megah dari awal. Cukup buat bagian penting dulu atau yang kita prioritaskan lah seperti kamar tidur, dapur sederhana, dan kamar mandi. Nanti kalau ada rezeki lebih, kita bisa tambah ruang tamu, ruang keluarga (ruang nonton TV bahasanya kalau di Aek Loba sini), garasi, gudang, bahkan lantai dua. Terserah mau diperluas ke belakang, ke samping atau ke atas. 

Yang penting, strukturnya sudah dirancang dari awal supaya bisa “menampung” pengembangan di masa depan. Jadi rumahnya tetap kokoh, fungsional, dan yang pasti tak kelihatan tambal sulam. Intinya rumah ini “hidup” dan “bertumbuh” bersama pemiliknya.


Konsep Dasar Rumah Tumbuh


Nah, biar lebih kebayang, ini beberapa hal penting dari konsep rumah tumbuh yang perlu kita tahu:

Direncanakan jangka panjang.

Walau mulainya kecil, pondasi dan rangka utama harus siap kalau mau ditambah lantai. Apalagi kalau lahan yang kita miliki memang terbatas ukurannya. 

Fleksibel.

Ruangan bisa ditambah tanpa bikin rumah yang ada jadi berantakan.

Prioritas dulu. 

Bangun yang penting-penting dulu, sisanya bisa menyusul.

Ada ruang cadangan.

Biasanya memang sengaja disisakan lahan belakang atau samping buat ekspansi nanti ketika tabungan sudah gendut lagi. 

Nah, kalau lihat-lihat konsepnya ini, sepertinya kita butuh konsultasi dengan arsitek ya kan supaya rancangan bangunan rumah impian kita ini efektif sesuai rencana dan harapan kita. 


Kenapa Rumah Tumbuh Menarik?


Alasan banyak orang memilih konsep ini cukup masuk akal, karena:

1. Hemat di awal. Nggak perlu keluar dana jumbo sekaligus.

2. Enggak bikin keuangan megap-megap. Bisa disesuaikan sama kondisi tabungan dan prioritas kebutuhan saat itu. 

3. Rumah ikut tumbuh bersama penghuninya. Keluarga tambah besar? Tinggal kembangkan rumahnya. Bisa tumbuh ke atas, kesamping atau ke belakang. 

4. Lebih efisien. Ruang yang kira-kira saat ini belum terpakai tak usah dibangun dulu, biar tak mubazir. (Misal ruang belajar, kamar tamu, garasi, gudang, dll. Kan belum perlu ya kan untuk keluarga baru anak satu, apalagi pengantin baru). 

5. Tetap cantik. Kalau desainnya sudah dirancang dari awal, hasil akhir rumah tetap estetis.


Kenalan dengan Rona Homes, Rumah Tumbuh dari Summarecon Tangerang


Kalau bicara soal rumah tumbuh, jadi teringat dengan proyek menarik dari Summarecon Tangerang: Rona Homes.
Dengan tagline-nya “Growing House for Growing You”, artinya, rumah ini memang didesain supaya bisa berkembang sesuai kebutuhan pemiliknya. Mulai dengan unit standar, lalu kalau kita butuh ruang tambahan, tinggal dikembangkan saja ke belakang atau ke atas. 

Lokasinya strategis banget, cuma sekitar 200 meter dari akses Tol Bitung KM 26, jadi gampang kalau mau ke Jakarta atau sekitarnya. Kawasannya juga modern, dengan konsep “Six Lakes, One Vibrant City” yang punya danau sebagai pusat township. Keren kan?

Yang buat makin menarik, Rona Homes ini ada di dalam cluster eksklusif dengan fasilitas yang hanya bisa diakses penghuni, bukan umum. Ada clubhouse, swimming pool, sampai children playground buat anak-anak main dengan aman. Selain itu kawasannya berteknologi one gate system, keamanan 24 jam, serta kabel bawah tanah yang tertata rapi. Jadi selain jenis rumahnya berdesain arsitektur modern tropis yang bisa berkembang, lingkungannya juga sangat nyaman untuk ditinggali jangka panjang.

Rona Homes
Sumber: summarecontangerang.com

Intinya, ini adalah paket lengkap buat kita, eh kamu yang cari rumah dengan konsep rumah tumbuh, tapi tetap ingin punya kualitas hidup oke.

Jadi, apakah bangun rumah dengan budget terbatas itu mustahil? Jawabannya sama sekali tidak ya. Konsep rumah tumbuh ini buat impian punya rumah jadi lebih realistis, fleksibel, dan ramah di kantong.

Oiya, kalau mau langsung lihat contoh nyatanya, Rona Homes ini bisa banget jadi pilihan ya. Dengan harga mulai Rp 800 jutaan, plus segala fasilitas Summarecon, kamu nggak cuma dapat rumah, tapi juga dapat kenyamanan hidup jangka panjang.

👉Yuk, coba intip lebih jauh tentang Rona Homes di Summarecon Tangerang. Siapa tahu, ini langkah awal rumah impianmu jadi kenyataan ✨

Menata Mimpi Rumah Masa Depan Bersama properti1.com

Beberapa waktu lalu, aku iseng membuka galeri foto lama. Ternyata ada satu folder berisi sketsa rumah impianku yang kubuat bertahun-tahun lalu. Dinding putih, taman mungil penuh lavender, dan ruang baca dengan jendela besar. Dulu rasanya itu sekadar angan-angan yang kubiarkan mengapung begitu saja. Tapi sekarang, setelah banyak belajar tentang kemandirian dan kehidupan yang lebih teratur, keinginan untuk punya “ruang sendiri” itu kembali muncul.

Ajaibnya, setiap kali kita mulai memikirkan sesuatu dengan serius, semesta seperti ikut bergerak. Alogaritma sosmed udah kayak yang paling memahami kita sedunia. Tiba-tiba aku jadi sering sekali menemukan konten tentang hunian, tips memilih lahan, sampai kisah orang yang baru saja membeli rumah pertamanya. Dan di tengah pencarianku itu, aku menemukan satu hal yang cukup membantu: sebuah platform bernama properti1.com.
Menata Mimpi Rumah Masa Depan Bersama properti1.com


Awalnya aku pikir ini hanya situs listing biasa. Tapi setelah ku jelajahi, ternyata fiturnya cukup rapi, informatif, dan yang paling, dia mudah dipahami orang awam sepertiku. Kalau kamu juga tipe yang suka riset dulu sebelum ambil keputusan besar, kamu pasti paham betapa berharganya platform yang nggak buat n kita pusing tujuh keliling.

Di properti1.com, aku bisa lihat berbagai pilihan rumah, lahan, dan properti komersial tanpa harus loncat dari satu situs ke situs lain. Lebih enak lagi, informasi dasarnya lengkap. Harga, lokasi, luas tanah, dan kondisi bangunan, semuanya jelas. Bahkan ada peta juga. Buatku yang suka membayangkan suasana sekitar, fitur itu sangat penting.

Saat mencari referensi untuk lahan yang dekat pusat kota, aku sempat membuka kategori website properti indonesia. Dari situ, aku sadar bahwa perkembangan properti di Indonesia itu tidak main-main. Banyak kawasan berkembang yang dulunya biasa saja, sekarang berubah jadi area strategis. Jadi kalau kamu sedang mempertimbangkan berinvestasi, platform ini bisa bantu kamu memantau harga pasar dan tren lokasi.

Dan kalau kamu kebetulan tinggal di Jakarta atau punya impian membangun rumah kecil di tengah hiruk-pikuk ibu kota (atau ya yang punya ada rencana pindah ke ibu kota misalnya), ada juga kategori jual tanah jakarta yang informasinya cukup lengkap. Kadang kita berpikir tanah di Jakarta pasti sudah habis, eh rupanya masih ada beberapa titik menarik yang cocok untuk hunian mungil maupun investasi jangka panjang.

Yang paling kusuka dari proses ini adalah bagaimana semuanya membuatku kembali mengingat mimpiku yang dulu. Ternyata, membangun rumah itu bukan hanya soal punya uang, tapi juga soal keberanian untuk memulai riset, membuka kemungkinan, dan mencari jalan pelan-pelan. Nggak harus langsung beli esok hari, tapi tahu arah dan langkah kecil apa yang bisa dimulai dari sekarang.

Seperti saat kita menanam tanaman baru di kebun, kita pilih media tanam yang tepat, atur pencahayaan, dan pelan-pelan memperhatikan pertumbuhannya. Begitu juga dengan urusan properti. Kita butuh tempat yang pas, informasi yang jernih, dan waktu untuk menimbang sebelum memutuskan yang terbaik.

Jadi kalau kamu kini sedang berada di fase “ingin punya rumah tapi bingung mulai dari mana”, mungkin saatnya membuka kembali mimpimu. Lihat sketsamu. Bayangkan jendelanya. Rasakan hangatnya ruang favoritmu. Dan setelah itu, coba sempatkan beberapa menit untuk menjelajah properti yang tersedia. Karena kita enggak pernah tahu langkah kecil mana yang akan membuka pintu yang lebih besar nanti.

Siapa tahu, mimpi rumah impianmu sebenarnya sedang menunggumu di sudut internet yang satu ini—dan mungkin, justru dimulai dari properti1.com.

Evakuasi Sarang Tawon Panggil Damkar Bayar 200ribu?

Sepotong Cerita dari Kanreapia: Ketika Budaya Bertemu Pemuda

Hisss! 

Darah segar langsung terbit menetes. Belum sampai 5 detik pisau cutter itu kupegang, alih-alih jeruk nipis yang ku potong, malah ujung telunjuk kiriku yang tersayat cukup dalam. Entah sugesti, entah memang naas, hampir tiap kali ketika aku menggunakan pisau cutter baru, walau sudah sangat berhati-hati, selalu saja ada tragedi sayatan berdarah yang ku alami. Kalau tak terpaksa kali, tak akan mau aku pakai pisau cutter baru. Dan di rewang kali itu, termasuk kondisi terpaksa, karena aku memang tak bawa pisau dari rumah. Ya tak mungkin kan aku bawa pisau dari rumah untuk rewang lintas kabupaten. Dari Aek Loba ke Batu Bara. 

Tahu rewang, kan? Bagi orang Sumut, rewang adalah salah satu tradisi gotong royong ketika ada hajatan. Ibu-ibu terutama bagian masak-memasak, bapak-bapak bagian peralatan, parut kelapa, mengaduk wajik dan jenang, potong lembu dan sebagainya, anak-anak muda bagian angkat piring, bahan makanan, juga lek-lek-an alias jaga malam. 

Selain rewang, ada juga tradisi gotong royong lain yang dulu sering dilakukan, sekarang sudah jarang kulihat di desaku. Sambatan namanya. Ini jenis gotong-royong ketika kita membangun sesuatu. Biasanya satu atau dua hari selesai. Misalnya bangun rumah (setengah papan), membuat kandang lembu, kandang ayam, membuat cakruk, dan sebagainya. Jadi para tetangga (bapak-bapak biasanya) berdatangan ikut membantu. Si tuan rumah akan menyediakan teh manis dan kudapan. Makan siang umumnya tak disediakan, karena bapak-bapak ini akan pulang ke rumah masing-masing ketika jam makan siang. Lalu sorenya akan lanjut lagi.
 
Nah, satu lagi jenis gotong-royong yang dulunya ada di desa kami adalah gotong royong membersihkan lingkungan. Biasanya diadakan di Minggu pagi. Sehari sebelumnya, Pak Kadus akan berkeliling memberitahu tiap rumah. Dulu, 2 pekan sekali pasti ada gotong royong. Sekarang, setahun sekali pun belum tentu ada. Agaknya makin lama dunia makin sibuk dengan urusan masing-masing ya. Tinggal rewang saja kini yang masih dipraktikkan di desa kami. Apakah di semua desa di Indonesia budaya gotong royong memang makin menipis tergerus masa? 

Ternyata tidak semuanya. Ada satu desa di Indonesia yang karena budaya gotong-royongnya malah membuat desanya jadi dikenal dunia. Desa Kanreapia namanya. Sebuah desa di Sulawesi Selatan. 

Ada apa di Kanreapia? 


Desa Kanreapia terletak di lereng gunung Bawakaraeng, kecamatan Tambolo Pao, di Kabupaten Gowa. Daerah ini dikenal dengan kabut dan suhu dinginnya. Saking dinginnya, desa ini dinamakan Kanreapia yang artinya makan api. Kanre: makan, dan Apia: api. Maksudnya, api dimakan pun masih tetap dingin rasanya. 

Desa ini memiliki tanah yang sangat subur. Sangat cocok untuk bertani. Dulunya masyarakat di sini hanya menanam 3 jenis tanaman pertanian saja yaitu markisa, ubi jalar dan jagung. Namun semenjak adanya Rumah Koran (2014) yang digagas oleh Jamaluddin, seorang pemuda daerah yang memilih pulang kampung setelah tamat S2, perlahan-lahan masyarakat desa mulai teredukasi dalam banyak hal terutama soal pertanian. 

Dari yang dulunya menanam markisa, ubi jalar dan jagung, masyarakat desa ini kini beralih menjadi berbudidaya sayuran. Ada setidaknya 10 komoditas utama sayuran yang dihasilkan desa Kanreapia; buncis, wortel, kol, sawi, labu siam, bunga kol, kentang, tomat, daun bawang, dan seledri. 

Dari yang dulunya bertani dengan menggunakan pupuk kimia, kini penduduk desa berangsur-angsur beralih ke sistem pertanian organik. Selain menghasilkan kualitas sayur yang lebih sehat, desa Kanreapia juga kini mampu menghasilkan sayuran segar dengan jumlah yang melimpah. Sehari panen bisa sampai 20 ton sayuran segar. Saking melimpahnya, di masa pandemi COVID-19, para petani sampai bisa menyedekahkan 50 ton sayur segar ke dapur umum Sat. Brimob Polda Sulsel. 

Aksi ini membuat desa Kanreapia dikenal sebagai Kampung Sayur dan kemudian di 2020 mendapat apresiasi sebagai Kampung Binaan Astra. 
Kampung Sayur


Kegiatan sedekah sayur ini masih terus berjalan hingga kini, menyasar panti asuhan dan pesantren di seluruh penjuru Sulsel. Yang buat aku salut adalah, gerakan yang digagas Jamaluddin melalui Rumah Koran, ternyata dilakukan dengan memanfaatkan sistem gotong royong yang ada di desa Kanreapia ini. Ia menggerakkan masyarakat desa melalui warisan budaya nenek moyang yang bahasa lokalnya di sana dikenal dengan sebutan Akkamissi.

Akkamissi adalah kegiatan gotong-royong masyarakat di Kanreapia yang di lakukan tiap hari Kamis. Jadi setiap Kamis warga punya kebiasaan berkumpul untuk melakukan suatu pekerjaan bersama-sama. Kalau di desaku gotong-royong itu (dulu ya) di hari Minggu, sedangkan di Desa Kanreapia, Kamis adalah hari gotong-royong. Rajin ya, tiap pekan gotong-royong. 

Nah, dengan kebiasaan Akkamissi yang dimiliki desanya, Jamaluddin, penerima SATU Indonesia Award 2017, berhasil menggerakkan warga desanya dalam hal pertanian berbasis ekoliterasi. Seperti dalam pertanian organik, ketika membuat pipanisasi dan sprinkler untuk sistem penyiraman, membuat lahan percontohan, memanen air hujan, membuat kompos, sedekah sayur, dan lain sebagainya, lagi-lagi diterapkan sistem Akkamissi

Begitu juga ketika bersama-sama membangun embung (tempat penampungan air) sampai desa ini punya 100 embung, sehingga Kampung Sayur mampu tetap hijau meski di musim kemarau. Petani di Kanreapia bisa dibilang bisa panen sepanjang musim. Ini semua merupakan hasil dari penerapan edukasi dan gotong-royong, Akkamissi. 
KBA Kanreapia


Dan ternyata efek dari penerapan edukasi dan gotong-royong yang digagas Rumah Koran ini tak hanya sebatas meningkatnya kesejahteraan ekonomi dan tabungan akhirat masyarakat Desa Kanreapia saja. Ada efek pelestarian lingkungan yang signifikan ternyata, sehingga di 2023, Kementerian Lingkungan Hidup pun memberikan penghargaan tertinggi pada desa ini sebagai Kampung Iklim

Tak berhenti sampai situ, keunikan dari sebuah budaya gotong-royong yang diterapkan di desa Kanreapia sehingga bisa menjaga iklim dan lingkungan di desa inilah yang kemudian dilirik oleh dunia internasional pada ajang COP28 di Dubai tahun 2023, sebuah ajang konferensi tahunan tentang perubahan iklim yang digagas oleh PBB. Jamal pun diundang sebagai narasumber pada ajang tersebut sebagai perwakilan Indonesia untuk bercerita tentang Desa Kanreapia, tentang bagaimana pertanian di sana, tentang bagaimana penerapan budaya Akkamissi di Kanreapia sehingga membuat desa itu terjaga iklim dan lingkungannya. 

Cerita tentang budaya gotong royong di Kanreapia ini mau tak mau mengingatkanku pada The Butterfly Effect, efek kepakan sayap kupu-kupu. Sepasang sayap apalah rasanya, namun ketika semua kupu-kupu di sebuah pulau serentak mengepak, tornado yang dihasilkan. 

Kini kita sampai di jaman yang tumbuh kembang generasinya semakin lebih akrab dengan berkompetisi daripada bekerja sama. Memang ada banyak hal yang lebih efektif dan menyenangkan dilakukan sendiri, sedangkan jika dilakukan bersama buat makan hati. Mungkin itu juga yang menyebabkan kita lupa atau pura-pura lupa (sehingga jadi terbiasa lupa) bahwa banyak pula hal yang jauh lebih berfaedah jika dilakukan bersama-sama. Semoga Indonesia yang dulu budaya gotong-royong dikenal sebagai identitas, tidak tinggal sekadar nama ketika bertemu generasi masa depan. 

Tulisan ini didedikasikan untuk memperingati 97 tahun Sumpah Pemuda



Sumber: 

Youtube SATU Indonesia award: Bincang Inspiratif 16th SATU Indonesia Award 2025 Manado

Youtube Rumah Koran: Kanreapia di A_Satu TVRI

Youtube Tv Tani Rumah Koran : KBA Kanreapia di Zona Tani TVRI Sebagai Kampung Sayur

https://rri.co.id/features/390438/kisah-inspiratif-jamaluddin-pencerdas-anak-petani-desa-kanreapia (diakses 20 Oktober 2025) 

rumah-koran.blogspot.com
Instagram @rumah.koran
Instagram @kbakanreapia
Instagram @tvtanirumahkoran
Instagram @kampung.sayur